Malang — Bahtsul Masail Shirothul Fuqoha kembali digelar dalam agenda musyawarah penutupan Lajnah Bahtsul Masa’il pada Kamis, 15 Januari 2026, bertempat di Aula Turmusy Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha, Malang..
Musyawarah penutupan ini menjadi bagian akhir dari rangkaian kegiatan Bahtsul Masa’il yang dilaksanakan selama satu hari penuh. Forum tidak hanya berfungsi sebagai agenda organisasi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran santri dalam mengkaji persoalan fikih kontemporer melalui pendekatan kitab kuning, kaidah fikih, serta metodologi keilmuan pesantren.
Pembukaan dan Pengantar Forum

Dewan mushohih memimpin jalannya musyawarah penutupan Lajnah Bahtsul Masa’il di PPS Shirothul Fuqoha Malang.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala II PPS Shirothul Fuqoha, Ustadz Helang Aldera Putra, S.Pd., Gr. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya Bahtsul Masa’il sebagai media penguatan tradisi keilmuan pesantren, khususnya dalam membentuk pola pikir kritis, sistematis, dan bertanggung jawab dalam menyikapi problematika umat.
Forum kemudian dipandu oleh Ketua Umum Lajnah Bahtsul Masa’il sekaligus moderator kegiatan, Sdr. Ahmad Zainuddin Da’il Falah. Dalam pengantarnya, ia menyampaikan pesan reflektif bahwa pengurus pada hakikatnya hanya menyampaikan amanat dan nasihat para guru.
“Pada hakikatnya kami sendiri tidak mempunyai pesan apa pun untuk teman-teman santri, karena segala bentuk pesan dari kami hanyalah sebatas menyambung lidah dari guru-guru kami. Salah satu pesan dari guru kami adalah tetaplah semangat dalam belajar kitab dan jangan menghiraukan segala bentuk gangguan,” ujar Ahmad Zainuddin Da’il Falah.
Pesan tersebut menegaskan pentingnya menjaga konsistensi belajar dan fokus dalam menuntut ilmu di tengah berbagai tantangan zaman.
Sementara itu, perwakilan dewan mushohih, Ustadz Ahmad Muna’im, turut memberikan penguatan terkait tantangan santri di era digital.
“Hari ini handphone yang bisa dijangkau oleh semua orang akan menjadi tantangan tangguh bagi kita semua. Maka akan sangat baik jika berlaku bijak dalam menggunakannya dan akan sangat istimewa ketika mampu mengembalikannya pada fungsi awalnya, yaitu sebagai media komunikasi saja,” tutur Ustadz Ahmad Muna’im.
Pesan tersebut menjadi pengingat agar santri mampu mengelola penggunaan teknologi secara proporsional tanpa mengganggu konsentrasi belajar dan kedisiplinan dalam menuntut ilmu.
Fokus Pembahasan Musyawarah
Musyawarah ini membahas dua pokok persoalan utama. Pertama, penerapan hukum fikih dalam kondisi masyaqqah syadidah (kesulitan berat) akibat bencana hidrometeorologi masif yang melanda wilayah Sumatra. Kedua, persoalan interaksi lawan jenis dan representasi diri di media sosial dalam perspektif fikih.
Kemudian kedua isu tersebut dikaji secara mendalam dengan merujuk pada literatur klasik, kitab-kitab mu’tabarah (kitab rujukan yang diakui para ulama), serta kaidah fikih yang relevan. Para peserta memaparkan dalil, pendapat ulama, serta analisis kontekstual sesuai dengan realitas kekinian.
Forum berjalan dengan pola diskusi terbuka, di mana setiap argumentasi diuji, diperkaya, dan dikritisi secara sehat dalam bingkai adab keilmuan pesantren.
Dinamika Diskusi dan Partisipasi Santri

Suasana musyawarah tampak hidup dan dinamis. Para santri aktif mengemukakan pendapat, menyampaikan argumen, serta saling menguatkan sudut pandang berdasarkan hasil kajian literatur. Diskusi tidak berjalan satu arah, melainkan berkembang secara dialogis dan konstruktif.
Sementara itu, Dewan perumus turut berperan aktif memberikan arahan metodologis, meluruskan pemahaman, serta memperdalam sudut pandang agar pembahasan tetap berada dalam koridor keilmuan yang tepat. Antusiasme peserta mencerminkan tumbuhnya budaya berpikir kritis, keberanian berpendapat, serta tanggung jawab ilmiah di kalangan santri.
Penutupan dan Harapan Keilmuan
Menjelang akhir kegiatan, musyawarah ditutup oleh perwakilan dewan mushohih, Ustadz Muna’im. Dalam penutupannya, beliau mengapresiasi kesungguhan peserta, kedisiplinan forum, serta kualitas diskusi yang terus menunjukkan peningkatan.
Ia berharap forum Bahtsul Masa’il dapat terus menjadi wadah pembentukan karakter santri yang kritis, ilmiah, dan bertanggung jawab dalam merespons problematika umat.
Rangkaian penutupan dilengkapi dengan penyampaian pesan dan kesan, doa bersama, sesi foto bersama, serta ramah tamah antara peserta dan dewan perumus. Meski hasil keputusan musyawarah masih dalam tahap finalisasi dan belum dirilis secara resmi, kualitas proses diskusi telah menunjukkan terjaganya tradisi akademik pesantren.
Melalui kegiatan Lajnah Bahtsul Masa’il ini, Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha meneguhkan komitmennya dalam membangun budaya literasi, daya kritis, serta kepekaan sosial santri dalam menjawab tantangan zaman.



