Harmoni Tradisi dan Teknologi: Transformasi Sunyi di Pondok Pesantren Shirothul Fuqoha Sepanjang

Para santri mengembangkan hardskill editing menggunakan fasilitas lab komputer pesantren

Harmoni Tradisi dan Teknologi di Pesantren Shirothul Fuqoha

Di Desa Sepanjang, Gondanglegi, ada sebuah suasana yang tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Dari langgar sederhana yang menjadi pusat kegiatan, suara santri yang membaca ayat suci selalu terdengar setiap pagi. Aroma tanah basah, wudhu, dan kitab yang telah lama dipakai menjadi pengingat bahwa ilmu di pesantren ini tumbuh dari kesederhanaan. Namun, di balik kesunyian itu, ada aktivitas lain yang tidak banyak diketahui. Di ruang administrasi, para pengurus mengelola berbagai data pesantren menggunakan komputer—mulai dari perizinan santri, pembayaran kos makan, hingga pembaruan sistem internal. Meski mayoritas santri tidak membawa ponsel, pengurus memanfaatkan teknologi dengan cara yang tertata dan penuh adab. Inilah salah satu keunikan Shirothul Fuqoha: memadukan tradisi salaf dengan pemanfaatan teknologi yang terarah.

Jejak Sejarah: Dari Langgar Kecil hingga Pesantren Besar

Pondok Pesantren Shirothul Fuqoha berdiri sejak tahun 1932, dibangun oleh KH. Damiri di atas tanah wakaf yang luasnya sekitar 1.184 m². Awalnya hanya berupa langgar tempat mengajar kitab kuning, tetapi dari tempat itulah tradisi ilmu berkembang. Perkembangan besar terjadi pada masa KH. Muhammad Dahlan Ghoni, seorang ulama dengan visi luas. Beliau membuka pendidikan formal tanpa meninggalkan tradisi salafiyah. Kini kepemimpinan diteruskan oleh Nyai Hj. Siti Zulfa, yang melanjutkan modernisasi manajemen pondok, tetap dengan prinsip utama: adab lebih tinggi dari ilmu. Di bawah kepemimpinan beliau, muncul inovasi seperti:

  • sistem izin digital,
  • website resmi,
  • pengelolaan media sosial,
  • administrasi online yang rapi.

Modernisasi dilakukan pelan, tetapi pasti.

Digitalisasi sebagai Jalan Baru Khidmah

Bagi sebagian orang, digitalisasi dianggap dapat melemahkan tradisi pesantren. Tetapi Shirothul Fuqoha menunjukkan bahwa teknologi bisa diarahkan untuk mendukung nilai, bukan sebaliknya. Teknologi digunakan untuk mempermudah pelayanan pengurus, menunjang dokumentasi kegiatan, menyampaikan informasi kepada wali santri, serta menjadi jembatan komunikasi resmi pesantren. Santri tetap fokus pada belajar dan adab, sementara layar menjadi alat bantu pengurus—not penguasa. Website resmi dan media sosial pondok kini menjadi ruang dakwah baru. Informasi kegiatan, program pendidikan, hingga dokumentasi keilmuan ditampilkan dengan selektif dan penuh kehati-hatian.

Di sini, dunia langgar dan layar tidak saling bertentangan—keduanya saling melengkapi.Pesantren sebagai Benteng Makna di Tengah Arus Digital

Pesantren sebagai Benteng Makna di Tengah Arus Digital

Di luar pesantren, media sosial sering dipenuhi informasi simpang siur dan isu negatif tentang pesantren. Banyak kesalahpahaman terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat. Shirothul Fuqoha hadir sebagai contoh pesantren yang tetap tenang menghadapi dunia digital. Tanpa ikut menjadi bagian dari kebisingan, pesantren menggunakan ruang digital untuk menyebarkan narasi yang santun dan edukatif. Di sini, para santri diajarkan bukan hanya ilmu agama, tetapi juga cara menjaga diri dari arus informasi digital.

Santri generasi sekarang tumbuh di era serba cepat. Di Shirothul Fuqoha, mereka diarahkan untuk tidak hanya mahir membaca teks klasik, tetapi juga peka membaca konteks zaman. Para ustaz selalu mengingatkan:

“Dakwah hari ini tidak hanya di mimbar, tetapi juga di ruang digital.”

Dengan bimbingan pondok, santri mulai belajar membuat konten positif, menulis, berdakwah melalui media sosial, dan memanfaatkan teknologi secara bijak. Inilah bentuk baru “salafiyah fleksibel”—tradisi tetap dipertahankan, namun tetap menyapa perkembangan zaman.

Transformasi di Pondok Pesantren Shirothul Fuqoha bukan perubahan besar yang terlihat mencolok, tetapi langkah-langkah kecil yang penuh makna. Langgar mengajarkan ketawadhu’an, sementara layar membantu pengurus bekerja lebih tertib. Keduanya berjalan berdampingan, menunjukkan bahwa pesantren salaf bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pembaca zaman. Dengan bimbingan para kiai dan nyai, serta kreativitas santri Gen Z, nilai-nilai Islam kini tidak hanya dipelajari, tetapi juga disebarkan ke ruang yang lebih luas—melalui cahaya layar yang tak terbatas.

Bagikan Artikel Ini

Share:

More Posts

Send Us A Message

Scroll to Top