Gondanglegi – Setiap tahunnya tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Berbagai perayaan dilakukan. Mulai dari upacara bendera sampai bermacam-macam perlombaan. Namun, di tengah meriahnya peringatan itu selalu muncul pertanyaan yang sama setiap tahunnya. Apakah benar pendidikan di negeri ini benar-benar bisa membentuk cara berpikir dengan baik atau hanya sekedar mencetak manusia yang berpikir belajar hanya untuk mendapatkan sebuah ijasah dan setelahnya berhenti?.
Pertanyaan ini selalu muncul karena pada realitanya pendidikan kerap kali diukur melalui angka, capaian akademik, dan target dari sebuah kurikulum. Peserta didik kerap dituntut untuk menguasai banyak materi, capaian akademik serta mencapai standar tertentu. Namun, pada saat yang sama peserta didik belum diberikan kesempatan untuk bertanya tanpa harus dihakimi. Peserta didik juga belum memiliki ruang untuk mengkritisinya dan menguji pengetahuan Mereka. Hal itu cukup penting agar lulusan yang dicetak dapat berpikir dengan baik.
Dalam dunia pesantren santri tak hanya berhenti pada penyampaian materi di dalam kelas saja. Memang benar di kelas Diniyah santri diberikan materi untuk memahami kitab matan dan mengkaji Syarah. Ilmu yang diberikan tak hanya pada sebuah hafalan dan catatan saja.
Ironisnya, ketika lembaga pendidikan formal masih berusaha menghadirkan iklim belajar semacam itu, ada praktik pendidikan yang sudah sejak dulu telah melakukannya dan menjadikannya sebagai tradisi keilmuan. Ia berjalan dengan konsisten, sederhana dan jarang mendapatkan sorotan. Praktik semacam itu hadir dalam lembaga pesantren yang selama ini kerap dipandang rendah.
Melalui sorogan santri dilatih membaca, mamahami teks dan juga mempertanggungjawabkan apa yang dipelajari di hadapan gurunya dan siap untuk dikoreksi. Hal ini tak sekedar metode pembelajaran saja, mereka diajarkan bahwa jika sebuah pemahaman juga wajib untuk diuji.
Lebih dari itu seluruh proses itu selanjutnya dikembangkan melalui kegiatan Musyawarah Bahtsul Masa’il. Dalam musyawaroh itu tidak sekedar diskusi keagamaan saja. Forum itu adalah ruang untuk menguji nalar setiap santri. Di dalamnya santri diberikan persoalan-persoalan nyata di tengah masyarakat yang harus mereka jawab. Mereka berusaha menjawabnya melalui berbagai referensi, telaah pendapat ulama, hingga perdebatan argumentatif yang tetap berlandaskan adab keilmuan. Dalam forum ini teks lama tak hanya sebatas dibaca saja, namun dipahami setiap kata yang tertuang di dalamnya. Pengetahuan tak hanya diyakini begitu saja, tapi harus bisa dipertanggungjawabkan.
Inilah salah wajah pendidikan yang saat ini semakin relevan.Di saat banyak proses belajar masih berorientasi pada hasil akhir, pesantren melalui Musyawarah Bahtsul Masail mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya tentang mengetahui jawaban, melainkan tentang bagaimana menemukan jawaban dengan proses yang benar.
Hari Pendidikan Nasional semestinya tidak hanya menjadi ruang perayaan, tetapi juga momentum untuk meninjau kembali makna pendidikan itu sendiri. Sebab pendidikan sejatinya bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan menumbuhkan keberanian berpikir, ketekunan mencari kebenaran, dan kerendahan hati untuk terus belajar.
Dan nilai-nilai itu, hingga hari ini, tetap hidup di ruang-ruang sederhana pesantren alah satunya melalui Musyawarah Bahtsul Masail.
Penulis: Akromal Umam
Editor: Tim Media Pondok Sepanjang



