GONDANGLEGI – Mengusung tema “Meneladani Akhlaq Mulia Nabi dan Masyayikh”, Yayasan Shirothul Fuqoha Pusat Sepanjang yang menauangi MA, SMK, MTs, Ma’had Qurani, serta Madrasah Diniyah Shirothul Fuqoha’ menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad Ke-4 Yayasan pada Kamis malam (27/8/2026). Kegiatan tahunan ini dipusatkan di halaman MTs Shirothul Fuqoha dan sukses menyedot antusiasme sekitar 1.400 jamaah.
Pemotongan Tumpeng dan Pembacaan Sholawat Khidmat

Acara dibuka tepat pukul 19.30 WIB oleh Master of Ceremony (MC), dilanjutkan dengan sambutan perwakilan pihak yayasan yang disampaikan oleh Bapak Munip, M.Pd. Sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan empat tahun berdirinya yayasan, prosesi pemotongan tumpeng dilangsungkan secara khidmat oleh Pengasuh Yayasan Shirothul Fuqoha, Nyai Hj. Siti Zulfa.
Suasana malam peringatan semakin bergema dan khusyuk saat lantunan sholawat nabi dipimpin oleh grup Al-Banjari Syidusyafaat. Kehadiran seluruh pimpinan yayasan dan dewan pengajar dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Shirothul Fuqoha menambah kekhidmatan suasana.
Kemeriahan Doorprize dan Antusiasme Jamaah
Antusiasme para santri dan masyarakat sekitar yang memadati lokasi acara terus membuncah dari awal hingga akhir kegiatan. Kemeriahan semakin terasa saat panitia menyelipkan sesi interaktif berupa pembagian berbagai doorprize menarik bagi jamaah yang mampu menjawab pertanyaan seputar keislaman dengan tepat.
Pesan Mauidhoh Hasanah KH. Isnandar: Pentingnya Meneladani Nabi dan Masyayikh

Memasuki puncak acara, KH. Isnandar menyampaikan mauidhoh hasanah sekaligus memimpin doa penutup. Dalam ceramahnya, beliau menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah (teladan terbaik) yang sifat-sifat mulianya harus senantiasa dihidupkan oleh para santri melalui pemahaman sirah nabawiyah.
Lebih lanjut, KH. Isnandar mengingatkan pentingnya menjaga adab dan rasa takzim kepada para masyayikh dan guru. Beliau menegaskan bahwa ulama dan kiai merupakan pewaris para nabi yang menyambungkan sanad keilmuan serta keberkahan. Oleh karena itu, meneladani akhlak nabi dan patuh kepada ajaran guru menjadi kunci utama dalam membentengi karakter santri di tengah tantangan zaman modern.
Penulis: Arizal Ahmad Husaeni
Editor: Tim Media Pondok Sepanjang



