Upacara yang diselenggarakan oleh Munadzomah Santri Shirothul Fuqoha’ dimulai pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Kepala pondok beserta jajaran turut hadir dalam kegiatan tersebut. Seluruh rangkaian upacara berlangsung tertib dan khidmat di bawah pembinaan Ust. Mu’arif selaku Kepala Sie Pendidikan. Sementara itu, Saudara Arya Syarifuddin bertugas sebagai pemimpin upacara.
Selain diikuti secara langsung oleh ratusan santri dan jajaran pengurus, pelaksanaan upacara HUT ke-81 RI juga disiarkan secara langsung melalui YouTube SHIFA CHANNEL. Siaran tersebut menjadi bagian dari publikasi kegiatan pesantren agar masyarakat, alumni, wali santri, dan pihak lain dapat mengikuti jalannya peringatan kemerdekaan meskipun tidak berada di lokasi.
Upacara HUT ke-81 RI Shirothul Fuqoha Berlangsung Khidmat
Peringatan HUT ke-81 RI ini menjadi bagian dari kegiatan pesantren dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Para santri mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan membawa identitas pesantren sekaligus menunjukkan semangat nasionalisme dalam suasana lingkungan pendidikan pesantren.
Nuansa kemerdekaan terlihat dari busana yang dikenakan para peserta. Para santri mengenakan seragam almamater pesantren dengan warna hijau putih. Sementara itu, jajaran pengurus tampil dengan pakaian Islami bernuansa merah putih.
Kesan berbeda tampak pada para petugas upacara. Mereka mengenakan pakaian putih yang dipadukan dengan sarung bernuansa merah putih. Sarung tersebut merupakan bagian dari program Gebyar Kemerdekaan Sarung Atlas yang turut membagikan sarung kepada sejumlah instansi pendidikan untuk digunakan dalam rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan.
Petugas Tampil dengan Konsep Sarung Merah Putih
Pasukan pengibar bendera juga tampil dengan konsep yang menyerupai paskibra. Mereka mengenakan sarung merah putih lengkap dengan sarung tangan saat menjalankan tugas pengibaran Sang Merah Putih.
Tim pengibar bendera terdiri dari 10 santri, yaitu M. Wildani Yusfi Azizi, Tsabit Alayqon Sajjad, Falhan Badar, Widad Arinil Khaq, M. Irfan Maulana, Rendi Raka, Royhan Ramadhani, Zulhilmi Hanif Alana, Khoirul Alifi, dan Idris Muhammad.
Rangkaian upacara berlangsung sebagaimana upacara peringatan kemerdekaan pada umumnya. Kegiatan diawali dengan persiapan pasukan dan laporan kepada pemimpin upacara. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pengibaran Bendera Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, detik-detik Proklamasi, pembacaan teks Proklamasi, Pancasila, Pembukaan UUD 1945, amanat inspektur upacara, lagu nasional, dan doa.
Pesan Kemerdekaan untuk Para Santri

Pada sesi amanat, Ust. Mu’arif mengajak para santri untuk memahami kemerdekaan sebagai tanggung jawab yang harus diisi dengan sikap dan tindakan yang positif. Ia menegaskan bahwa perjuangan para pendahulu tidak seharusnya dibalas dengan ketidakpedulian maupun kemalasan.
“Indonesia yang kita cita-citakan akan lahir dari manusia-manusia Indonesia yang mau bertumbuh, mau bertanggung jawab, mau berkorban, dan mau mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya,” demikian pesan yang disampaikan dalam amanat upacara.
Ust. Mu’arif juga menekankan bahwa kemerdekaan tidak berarti bebas dari aturan, tanggung jawab, maupun kewajiban. Kemerdekaan justru memberikan kesempatan kepada setiap generasi untuk menentukan arah bangsa sekaligus menjalankan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi para santri yang tengah menempuh pendidikan di lingkungan pesantren. Semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kedisiplinan dalam belajar, kepatuhan terhadap aturan, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesiapan untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Munadzomah Dorong Santri Isi Kemerdekaan dengan Karya
Ketua Munadzomah Santri Shirothul Fuqoha’, Syarif Aisy Fillah, menyampaikan bahwa peringatan HUT ke-81 RI menjadi momentum bagi para santri untuk tidak hanya mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga mempersiapkan diri sebagai generasi yang mampu memberikan manfaat.
Menurutnya, kegiatan peringatan kemerdekaan di lingkungan pesantren dapat menjadi ruang bagi santri untuk belajar mengenai tanggung jawab, kedisiplinan, kerja sama, dan kepemimpinan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh santri untuk memahami bahwa mengisi kemerdekaan bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti disiplin dalam belajar, aktif dalam kegiatan, menjaga nama baik pesantren, dan terus mengembangkan kemampuan yang dimiliki,” ujar Syarif Aisy Fillah.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara, mulai dari pengurus, asatidz, petugas upacara, hingga seluruh santri yang mengikuti kegiatan dengan tertib.
Menurut Syarif, keterlibatan santri dalam kepanitiaan dan pelaksanaan upacara juga menjadi bagian dari proses pembelajaran organisasi. Para santri mendapatkan pengalaman dalam mempersiapkan kegiatan, membagi tugas, menjaga kedisiplinan, serta bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Semangat Kemerdekaan dalam Tradisi Pesantren
Peringatan kemerdekaan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan nasional dapat berjalan berdampingan dengan tradisi dan kehidupan pesantren. Identitas sebagai santri tetap terlihat melalui penggunaan seragam almamater dan sarung, sementara semangat nasionalisme hadir melalui penggunaan warna merah putih serta pelaksanaan upacara bendera.
Penggunaan sarung merah putih pada petugas dan pasukan pengibar bendera menjadi salah satu ciri khas dalam pelaksanaan upacara tahun ini. Konsep tersebut memberikan sentuhan berbeda tanpa menghilangkan unsur kedisiplinan dalam pelaksanaan upacara.
Bagi para santri, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperingati kemerdekaan sekaligus memperkuat kebersamaan di lingkungan pesantren. Seluruh peserta mengikuti rangkaian acara hingga selesai sebelum kembali menjalankan aktivitas masing-masing.
Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Para santri dan jajaran pengurus kemudian kembali ke aktivitas masing-masing setelah mengikuti upacara yang berlangsung selama kurang lebih dua jam.
Peringatan HUT ke-81 RI di Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha’ menjadi ruang bagi para santri untuk memperingati kemerdekaan dengan tetap membawa identitas dan tradisi pesantren. Perpaduan busana hijau putih para santri, pakaian merah putih para pengurus dan petugas, serta penggunaan sarung merah putih menjadi bagian dari suasana peringatan kemerdekaan tahun ini.
Penulis: Syahrul Hidayat
Editor: Tim Media Pondok Sepanjang



